Suararakyatjelata.com, Dalam rangka menguat silaturrahmi dan solider sesama rekan seangkatan, Minggu pagi 18/10 Alumni 85 SMPN 2 Sungai Penuh gelar kegiatan rutin arisan bersama sambil bacikarau sesama dengan skedul yang telah tetap yakni minggu kedua disetiap bulannya.
Agenda bersama sambil berbagi dan mengisi pagi minggu ini sekaligus bentuk komitmen A 85 yang hampir ratanya sudah memasuki usia masa pra lansia dalam memulih kesegaran dan kesehatan sambil marathon bersama masyarakat dilapangan Merdeka dan seputaran tugu 17 Kota Sungai Penuh.
Pada pertemuan kali ini, memang terlihat tak seberapa A 85 yang hadir karena sikond bisa dimaklumi bahwa semua hal harus bertatap muka langsung telah diperioritaskan oleh Pemerintah bisa digelar secara daring lantaran kabut asap tak henti menyeringai diseantero Nusantara ini terutama di Sumatera dan Kalimantan.
Tapi, diminimnya kehadiran A 85 tersebut ketika minum kawo diwarung uda Sap Sudi Mampir ada hal besar bagi kemaslahatan semesta alam atau sekalian umat yang dibahas secara bersama dengan tema Hutan Bagi Kelangsungan Hidup & Peningkatan Ekonomi Masyarakat.
Pasalnya, Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci disebut daerah serumpun tak sekedar sudah terlanjur menghibahkan lebih dari separoh wilayahnya seluas 51,09% kepada TNKS untuk dijadikan paru paru dunia, hingga tak seberapa lagi kawasan yang bisa dimanfaatkan.
Sementara, daerah serumpun tercatat sebagai salah satu daerah di Sumatera khususnya Provinsi Jambi mengalami dampak parah dari kabut asap sudah berbulan lamanya menyelimuti pulau Sumatera.
Bincang sederhana bersama dan sesama yang dipimpin langsung oleh Ketum A 85 Bung Tito Rivano Kadis Ketahan Pangan Kabupaten Kerinci dengan nara sumber Toni Media dari komunitas Walhi, dan Yani Akaw dari kalangan Wartawan, serta Charty orak opo opo dari unsur peladang juga diikuti oleh para ulu balang selaku pucuk nan duo baleh Yal Epita, Desrizal dan Efrizal.
Dengan tetap mengacu pada data dan temuan Walhi, selain diminta adanya aktion nyata dari pengusaha, petinggi dan pembersar termasuk dalam oligarki notabenenya komunitas terbesar penguasa dan penjarah hutan terbesar di Republik ini terhadap upaya antisipasi Karhutla.
Juga diminta kepada Pemerintah RI yang katanya akan mengambil alih tiap lahan tak dipungsikan hendaknya bukanlah merupakan trik bagaimana penguasaan hutan bisa terjadi kembali oleh pengusaha, pembesar dan oligarki seperti terjadi selama ini.Tapi, bagaimana lahan khususnya dalam kawasan hutan benar benar ada manfaat besarnya bagi pertumbuhan usaha dan peningkatan ekonomi masyarakat dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.
Mengingat, Indonesia menyebut diri sebagai negara besar dan maju dunia dimasa tarakinainya read-kini tak sebatas sedang diuji kesiapan dan kesanggupannya mengatasi Karhutla, tapi juga didesak oleh tuntutan peningkatan usaha maupun kerja dan ekonomi masyarakatnya.
Dengan harapan Pemerintahan RI tetap konsisten pada semangat berapi apinya semata demi memikir kemaslahatan orang banyak atau masyarakat karena tantangan global dihadapi tak sebatas kemajuan tekhnolagi dan digital semata, tapi juga fakta dan kemajuan dahsat berfikirnya rakyat atau masyarakat memiliki peran yang sangat besar ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Amin, semoga. Penulisnya, katakan sajalah orang jauh tapi dekat dihati namanya.@Yd,Yid,Yi dan Riles.












