Siararakyatjelata.com, Sudah hampir berbulan lamanya Indonesia bersikabut read-sibuk dihadapi masalah kabut dan asap tak henti menyeringai di Kota kota besar sampai tiap penjuru pelosoknya daerah, hanya karena satu kata singkat yakni “Karhutla” berarti telah terjadinya Kebakaran Hutan dan lahan.
Seolah olah kata singkat tersebut hanya dihimpun untuk menjadi trending topik para awak media dan diskusi para elit beserta tokoh nasional ketika datangnya kebakaran hutan dan lahan, tampa ada kesiapan dan kesanggupan antisipasi secara ampuh sebagaimana digelar oleh negara luar hanya dalam waktu beberapa hari kebakaran hutan dan lahan tuntas ditangani.
Mirisnya lagi, bila terjadi Karhutla tetap saja masyarakat kecil dengan kehidupan mencari upah dapat sehari dan habis untuk sehari serta lusanya kembali lagi bersitunggit mengais rezeki demi sesuap nasi menghidupkan keluarga dan anak selalu menjadi korban maupun tumbalnya, tampa menjamah pihak perusahaan besar yang dikenal sebagai raja pembabat hutan di Republik ini.
Sementara, Pemerintah RI dimasa tarakinai read-kini tak henti menggadang gadangkan program unggulan nasional diantaranya Ketahanan Pangan notabenenya sektor tak lepas dari hutan dan lahan. Bahkan, dengan baiyo iyonya menyebut tak sekedar lahan tidur dataran rendah kembali dipungsikan bahkan lahan tidur dataran tinggi juga katanya harus diproduktifkan.
Tidak tanggung tanggung, diketahui pula sekian ribu hektar kawasan pebukitan Papua pulau dikenal sebagai ladangnya emas Indonesia telah diratakan oleh ratusan unit alat berat sengaja didatangkan oleh Pemerintah RI guna membuka kawasan lahan baru untuk mendukung program ketahanan pangan nasional.
Kenyataannya, dari waktu kewaktunya Karhutla dinilai telah menjadi ancaman serius terjadi dipulau pulau besar di Republik ini, tak sekedar berdampak terhadap produktifitas lahan pertanian dan perkebunan, malah berpotensi besar terhadap kesehatan dan keselamatan nyawa masyarakat.
Begitu pula, ancaman banjir bukan nauzubillah aduhai ganas bila tiba waktunya melanda dengan dampak minta ampunnya mendera seperti banjir terjadi di Sumatera belum lama ini telah memporak porandakan format kehidupan sosial masyarakat termasuk kerja, usaha dan hasil produksi tani masyarakatnya.
Maaf cakap, kata orang Melayu daun kopi alias air daun serbuk kawo khusus pembangunan sektor pertanian terutama didaerah yang nampak hanya kegiatan berdiri kelompok tani dadakan berebut ingin mendapat kucuran proyek P3AI dan Oplah, pembagian bibit gratis dan panen raya perdana dikawasan dikenal produktif. Tampa ada pembangunan irigasi sifatnya permanen dengan multi fungsinya bisa mengairi air kelahan pertanian ketika musim kemarau dan bisa mengeluarkan air dari lahan pertanian ketika musim hujan lebat yang berpotensi terjadi banjir.
Tak bermaksud amit amit ingin mengutip ayat suci menyebut bahwa “Ada kalanya ulah petbuatan seseorang berdampak musibah terhadap orang banyak”, karena bila bertanya pada rumput bergoyangpun pasti tak ada jawaban, bahkan bila disengketapun tetap saja satu sama lainnya ingin membela diri dan tak ingin disalahkan terkait ini salah siapa dan ini dosa siapa?
Tapi, setidaknya wajar bila muncul tueik tanya read-pertanyaan terhadap yang dipercayai mengurus, mengatur dan mengelola negara ini bahwa sejauhmana kesiapan dan kesanggupan personil maupun fasilitas dimiliki guna antisipasi bencana Karhutla dan Banjir?, agar bangsa ini terutama Pemerintah RI tak dinilai sebagai kaum tiap waktunya dilaknat oleh tuhan dengan tak hentinya bencana melanda sebagaimana disebutNYA dalam Alquran, “sebelum datang hari kiamat akan aku beri pelajaran terhadap kaum kelewat batas dimuka bumi ini”.
Dalam artian, tetap merunut pada bagaimana standarnya langkah dan upaya digelar oleh negara besar dan maju dunia terutama negara yang konsent dan komit memajukan sektor pertanian dengan kesanggupan bernegaranya tak pernah didengar masyarakat petaninya sampai berbulan mengeluh akibat didera oleh bencana Kathutla maupun Banjir. Hendaknya, mampu diwujudkan yang sudah terlanjur bangga menyebut diri sebagai negara besar dan kaya dunia. Amin semoga, penulisnya katakan sajalah orang jauh tapi dekat dihati namanya.@Yd,Yid,Yi dan Riles.












