Suararakuatjelata.com, Tak salah kiranya para aktivis Kopi setengah air penuh kerap mau menyebut bahwa Kota Sungai Penuh “Takicuh dinan tarang”, karena sudah terlanjur baiyonya menggadang gadangkan pelaksana Mega Proyek Tahun 2026 dengan anggaran puluhan milyar rupiah dengan sumber anggarannya APBN.
Bahkan, ketika awal pengerjaan beredar rumor menyebut bahwa proyek Pasar Beringin dengan nilai 48 M dan proyek SPAM PDAM Tirta Kahyangan dengan nilai 33 M sama sama dikerjakan oleh kontraktor berkelas nasional yang katanya pernah sukses dipercayai menggelar proyek besar dengan nilai dolar di negara tetangga Singapur termasuk Brunai.
Hingga, tak sedikit pula para ulu balang tunggu negri termasuk sejumlah komunitas jenis manusio kaleng kaleng nekat menyodor diri dengan relanya menjual kehormatan dari legalitas pengawasan yang dikantongi demi dipercayai sebagai bekingan yang siap mengaman kelancaran dan suksesnya pelaksanaan Mega Proyek tersebut.
Ternyata, apa yang diiming imingkan tersebut hanyalah isapan jempol semata, tak lebih bentuk trik dari pelaksana beserta salesnya guna memuluskan niatnya bagaimana dengan ragam cara bisa mengeruk keuntungan besar termasuk adanya indikasi kuat proyeknya hanya digelar sebatas pekerjaan struktur semata notabene jenis pekerjaan yang banyak profit read-untung tampa mesti dikerjakan sampai selesai.
Demikian, semakin terkuak ketika memasuk akhir September 2026 ini pengerjaan Pasar Beringin semakin terkesan tidak becus alias tak beres dari mesti tampa ada niat baik dari pelaksana untuk menyelesaikan pekerjaan seharusnya tuntas pada bulan November 2026 ini.
Buktinya, tahapan pengerjaan atap bangunan Pasar Beringin yang dijanjikan oleh pihak pelaksana bisa selesai bulan September ini ternyata cuma cerita doang semata, sementara dinilai nampak hanya kesombongan menjulangnya alat berat penariknya ditengah pusat pasar dengan hasil kerja seperti ayam gadis bertelur.
Tragisnya lagi, alat berat yang digunakan sudah mulai terlihat berulah dan rusak seperti yang beroperasi didepan deret toko emas, termasuk untuk menaikkan material pasir dari lantai satu kelantai dua dilakukan secara manual oleh buruh kerja dengan cara menarik embernya dengan tali tergantung diroda pemutar.
Padahal, diketika sidaknya DPRD Kota Sungai Penuh termasuk Wako Sungai Penuh Alfin dengan wanti wanti dan tegasnya menekan pelaksana supaya menambah pekerja termasuk armada dan alat beratnya agar pekerjaan bisa selesai pada bulan Oktober 2026 ini.
Begitu pula, pekerjaan SPAM Tirta Kahyangan yang diindikasi sama bakal terlaksana hanya sebatas Pekerjaan Strukturnya semata dengan sistim kerjanya sangat dikhwatir berpotensi terhadap kerugian besar pembangunan daerah serta uang negara yang digunakan, karena konsultan dan pelaksananya lebih banyak berindehoy dari pada berada di lokasi pekerjaan.
Tragisnya lagi, hampir rata item pengerjaannya diberikan kepada subkontraktor tak ubahnya seperti menyaksi persiapan keberangkatan mobil bus mersi angkutan umum antar pulau yang dikendarai oleh supir tembak mengantongi SIM kadaluarsa yang menunggu giliran secara antri disetiap persimpangan jalan utama yang dilewati.
Tak heran, para aktivis Kopi setengah air penuh menilai bahwa pelaksanaan Mega Proyek Nasional 2026 di Kota Sungai Penuh dikerjakan oleh Kontraktor nasional yang berkelas daerah, dan jauh tak ada apanya dibanding dengan keseriusan maupun kesanggupan kualitas hasil kerja dari kontraktor daerah yang berkelas nasional seperti Bung H.Andi Yusuf dan Koko Sihok. Bersambung.@Yd,Yid,Yi dan Riles.












